Jumat, Januari 30, 2015

INGIN KUSANDERA WAKTU

FANFICT
Zetsuen No Tempest 
Oleh : Nadia Rahmatul Ummah
Cast : Mahiro Fuwa, Yoshino Takigawa, Aika (Zetsuen No Tempest)
Length : One Shoot
Genre : Tragedy, Fantasy, sedikit Angst
Rambutku teracak dikacau angin, hembusannya mengigilkan tubuhku. Di bawah sana deru kendaraan tak juga henti, kota ini seolah tak pernah mati bagai mesin dengan generator abadi. Terus menyala, tak pernah mati. Kebisingan Kota Tokyo tercipta dan tak pernah terhenti meskipun sudah larut malam.
Aku tahu, dari atas sana Tuhan memperhatikanku, memikirkan skenario apalagi yang akan aku perankan dalam hidup ini, sedramatis apa lagi yang akan Tuhan terapkan dalam alur kehidupanku ini, sudahlah! Aku sudah tak kuasa menjadi tokoh dalam cerita-Nya.
Langit hitam pekat diselimuti awan yang tak ingin mengalah memburu warna hitam langit, dari atas gedung ini langit seolah menantangku. Kerlip lampu dari bangunan-bangunan di kota ini tak membuat suasana berubah indah nan romantis, malah menyiratkan kata selamat tinggal padaku.
“Woi, sekarang aku yang akan membuat skenario hidupku sendiri!” aku berteriak menantang Tuhan, memecah hening malam, suasana tengah malam tak membuat suaraku terdengar oleh penghuni kota yang penuh dengan kehebatan teknologi ini.
Tak ada yang terjadi, langit masih diam membisu, malah angin yang berbisik mengelus wajah dan leherku.
Aku sudah menyerah dengan keadaanku, semua orang dalam kehidupanku sudah mati, aku harus mati juga menyusul mereka, menyusul Aika dan Orang Tuaku, sudah cukup mengerikan skenario hidupku ini, kisah cintaku yang kandas tak terselamatkan karena pengkhianatan, serta sejarah pendidikanku yang harus berakhir hari ini karena harus drop out dari kampus.
Sejak sekolah aku sudah ditinggal orang tuaku, aku tinggal bersama Aika, bukan adik kandungku dan satu lagi kenapa Yoshino harus ikut tinggal bersama kami? Padahal aku sudah cukup khawatir jika melihat Yoshino mendekati Aika waktu masih SMA.
Setelah kurasa sempurna kembali hidup bersama Aika, Tuhan mengambil Aika dari kehidupanku, dari kehidupan Yoshino juga. Seteahkematian Aika aku harus menelan kenyataan pahit bahwa Aika pernah bersama Yoshino. Saat mengetahui itu kepercayaanku pada Yoshino hancur, kehidupanku juga terasa hancur.
Kisah tragisku belum berakhir disana, aku harus drop out dari kampus karena ketahuan mengkonsumsi heroin, pengganti teman hidupku.
Tuhan tahu tentang kehidupanku, ya, karena Dia yang menulis skenario ini untukku, dan entah kenapa aku tergerak untuk memerankah tokoh yang paling malang dalam sekenario-Nya.
# # #
            Malam ini aku akan mengakhiri semuanya. Aku akan melompat dari gedung ini. Aku akan bunuh diri. Aku tahu, Dia sangat membenci orang yang bunuh diri dan aku dengan senang hati akan melakukannya untuk-Nya.
            Aku memanjat pembatas di tepi gedung, berdiri tegak. Terlihat dari tempatku berdiri sejumlah kendaraan yang merayap di atas jalan raya seperti barisan semut yang memiliki cahaya, aku merentangkan tanganku, wajahku menengadah menantang angin dan langit secara tak langsung menantang Tuhan.
Dalam hitungan detik aku akan menjadi potongan tubuh dengan simbahan darah dimana-mana, satu …dua…ti….

“Tunggu!”
Suara yang menggelegar bagaikan petir berseru padaku, suara yang menggelegar dan dingin seperti bongkahan es mampu membuatku bulu kudukku merinding dan tubuhku menggigil, belum terbayang bagaimana rupa pemilik suara  mistis itu, yang kutahu saat ini ia ada di belakangku, aku berbalik perlahan. Sosok tinggi besar berdiri dengan mimik wajah penuh amarah, tingginya sekitar dua meter, seluruh wajah dan badannya berwarna hitam legam, jubah yang ia kenakan pun tak tak tampak seperti jubah, menempel seperti kulitnya. Mahluk apakah di hadapanku ini?.
“Apa kau Tuhan?”
Aku bertanya ragu, tak mungkin Tuhan seperti ini, dan tak mungkin pula penyihir ada di hadapanku menghentikan aksi bunuh diriku.
“Gila, kau!” suara mistis itu kini membentakku “mana mungkin Tuhan datang kepadamu menampakkan diri”.
“Penyihir?” aku bertanya lagi, ragu.
“Makin gila, kau!” sosok itu membentak lagi “penyihir mana yang menahan manusia untuk bunuh diri”
“Malaikat kematian?” tanyaku lagi, kali ini aku tak ragu.
“Bukan!” masih dengan suara mistisnya yang tetap saja buatku merinding ia menyangkal “aku adalah maut”
“Kau? Maut ?” aku hampir tak bisa bernafas “apa kau kesini untuk menjemputku?”
“Bukan aku yang akan menjemputmu, Mahiro”
“Terus untuk apa kau datang kesini menghancurkan rencanaku?”
 “Kau masih mau menantang takdir Tuhan?” tanyanya “aku datang untuk mengingatkanmu, Mahiro”
“Mengingatkan? Apa?” aku berseru, kini aku geram dengan tingkahnya.
“Tuhan belum mengizinkanmu mati, kau harus terus berjuang bersama temanmu yang bernama Yoshino itu untuk menjalani kehidupan ini sampai kau temukan kehidupan yang benar-benar kau inginkan”
“Hah?” aku mendengus kesal “ Yoshino? Yoshino sudah berkhianat padaku, ia telah merebut Aika dari hidupku”
“Terus kau mau hidup dengan siapa? Tuhan tak akan membuatmu mati saat ini, waktumu untuk mati masih jauh dari hari ini, Mahiro” ia kembali membentakku.
“Akan kusandera waktu agar Tuhan mengizinkanku mati malam ini dan malaikat maut akan menjemputku”
“Kau tak bisa melakukan itu, Mahiro, kau bukan tuhan!” ia menyangkal “Malaikat maut juga tak akan menjemputmu jika Tuhan belum memberikan perintah untuk menjemputmu dank au masih akan tetap hidup”
“Ah, jika aku lompat dari lantai enam puluh gedung ini pasti akan mati”
“Kau akan tetap hidup selama Tuhan belum memberikan takdir mati untukmu”
“Bagaimana mungkin?”
“ Tak ada yang tak mungkin bagi Tuhan, Dia masih menginginkanmu hidup di dunia ini”
“Aku tak percaya itu!”
Sosok yang berdebat denganku tadi menghilang seperti asap, ia mungkin sudah merasa kalah dengan aksi debatku tadi.
Aku akan mati malam ini, kuhempas tubuhku, meloncat dari lantai ke enam puluh gedung ini, salah satu gedung di Tokyo, seketika aku merasa terbang, butuh beberapa detik sampai aku menjadi potongan tubuh yang bersimbah darah di bawah sana, beberapa scene kehidupanku dari masa kecil berkelebat dalam bayanganku, orang tuaku, Aika si gadis manis, Yoshino temanku, semuanya membayangi dalam pikiranku. Sampai akhirnya…
BUUUM!
Suara berdebum menjadi awal dari kesuksesanku untuk mati, aku rasa kepalaku yang menimpa tanah terlebih dahulu, bau amis darah tercium, mungkin rambut kuning keemasanku sudah berubah menjadi merah, bau amis ini sangat dekat, pasti darah dari kepala dan tubuhku, ya, Mahiro sudah menjadi potongan tubuh bersimbah darah, aku mengerang kesakitan, aku kira aku telah mati, aku masih hidup.
Sosok maut yang berdebat denganku muncul kembali, ia menatapku dengan kesal.
“Sudah kubilang, kan?” ia berujar lagi dengan suaranya yang mistis ”Kau masih hidup, kau terlalu sombong, Mahiro, kau manusia sombong yang pernah kutemui”
“Arrgh, bagaimana bisa?” aku bertanya dan mengerang menahan sakit yang sangat menyiksa, sama menyiksanya seperti kehidupan yang telah kulewati.
“Tuhan masih menginginkanmu hidup, berjuang lagi dengan Yoshino, bukan berjuang sendiri untuk mengakhiri hidupmu dengan hina seperti ini”
“Mahiro!” sebuah teriakan yang begitu aku kenal tertangkap oleh telingaku yang hampir hancur karena kepalaku yang membentur, Yoshino, itu pasti Yoshino.
Seketika sosok maut yang mengerikan dan membuatku merinding kembali menghilang seperti asap, saat itu juga aku hanya mampu mendengar sayup-sayup suara sirene dan seruan Yoshino yang menyebut namaku, pandangaku kabur dan seketika gelap.
# # #
            “Kau tak berhasil menyandera waktu, Mahiro”
            Lelaki yang memiliki bola mata hijau itu kini berada di depanku, aku hanya bisa tersenyum meringis.
            “Dan tak mungkin kau bisa menyandera waktu”
            Yoshino menyodorkan segelas air putih padaku.
            “Aku masih tak percaya aku bisa hidup” aku menimpali ucapan Yoshino.
          “Dan aku tak percaya kau bisa berbicara dengan maut” Yoshino mengambil gelas yang telah kuminum airnya.
            “Padahal aku sudah berjuang untuk mati, tapi ia mengagalkan semuanya”
            “Mahiro, sungguh rugi kau berjuang demi kematian, berjuang hal yang sungguh dibenci oleh Tuhan” Yoshino menimpali.
            “Dan Tuhan memberikanku skenario baru setelah aku terjun dari ketinggian lantai enam puluh gedung itu, dalam skenari-Nya aku harus kembali berjuang bersamamu untuk hidup”.
            Yoshino menjabat tanganku “Selamat kau telah memiliki skenario baru bersamaku” ia tersenyum, seolah kehidupannya juga menyambutku.
               Suasana rumah sakit begitu hening saat ini, satu bulan setelah aksi perjuangan bodohku untuk mati keadaan normal kembali, aku tak bisa membenci Yoshino karena Aika.
            Aku sadar, waktu tak bisa kusandera untuk membujuk Tuhan agar mengubah skenario hidupku, sungguh, akulah yang harus menjadi tokoh yang lebih baik dalam skenario itu.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar