Irama Kereta Malabar, kemarin,
Kau akan tahu bagaimana wujud kami setelah kau telusuri ceritaku ini, Rey.
Beberapa bulan yang lalu, entah berapa jumlahnya aku tak tahu pasti, yang kuingat hanya jejak-jejak aku dan dia yang teringgal. Kami meninggalkan cerita yang tak pernah diketahui oleh siapapun kecuali kamu, cerita yang pernah membuatku menangis semalaman. Ah, tak perlu kuceritakan lagi bagaimana aku dan dia berucap sayonara.
Kau
tahu, Rey? Aku sempat menghindarinya, namun dengan menjauhinya sama saja dengan
menghilangkan separuh dari diriku, aku bukan apa-apa tanpa dirinya, aku hidup dengan
hati yang dititipkannya padaku. Namun semenjak hatinya dibawa kembali, --entah
akan dtiitipkan pada siapa lagi hatinya itu— hatiku juga terbawa olehnya dalam
keadaan koma, dan yang menghidupkannya kembali adalah kehadiran dia.
“Ya,
makasih, sayang”
Maaf,
aku tak tahan ingin mengucapkan kata yang sama walaupun makna sayangku berbeda,
tapi setelah aku pikir-pikir, rasa sayangku hampir menyamai rasa sayangnya
padaku.





