Senin, November 04, 2013

DONGENG KITA, TAK ADA PERI, TAK ADA PENYIHIR! #BAG 2



               

              Irama Kereta Malabar, kemarin, 
              Kau akan tahu bagaimana wujud kami setelah kau telusuri ceritaku ini, Rey. 
          Beberapa bulan yang lalu, entah berapa jumlahnya aku tak tahu pasti, yang kuingat hanya jejak-jejak aku dan dia yang teringgal. Kami meninggalkan cerita yang tak pernah diketahui oleh siapapun kecuali kamu, cerita yang pernah membuatku menangis semalaman. Ah, tak perlu kuceritakan lagi bagaimana aku dan dia berucap sayonara.
            Kau tahu, Rey? Aku sempat menghindarinya, namun dengan menjauhinya sama saja dengan menghilangkan separuh dari diriku, aku bukan apa-apa tanpa dirinya, aku hidup dengan hati yang dititipkannya padaku. Namun semenjak hatinya dibawa kembali, --entah akan dtiitipkan pada siapa lagi hatinya itu— hatiku juga terbawa olehnya dalam keadaan koma, dan yang menghidupkannya kembali adalah kehadiran dia.
            “Ya, makasih, sayang”
            Maaf, aku tak tahan ingin mengucapkan kata yang sama walaupun makna sayangku berbeda, tapi setelah aku pikir-pikir, rasa sayangku hampir menyamai rasa sayangnya padaku.

Sabtu, Oktober 19, 2013

DONGENG KITA, TAK ADA PERI , TAK ADA PENYIHIR! #Bag.1




 Kau mau tahu cerita yang mirip dongeng Putri Fiona yang dipersunting oleh Ogre?, hampir mirip, hmm, menurutku ini kemiripannya ada pada cerita perubahan wujudnya. Aaa, baiklah, tadinya aku mau bercerita melalui sebuah cerita pendek, tapi kau tahu sendiri aku tak pandai menulis sebuah cerita pendek, kata editorku ceritaku tak berisi, selalu menggantung. Dan kuputuskan hanya cerita seperti ini saja.
Ya, cerita hari ini, di ruang yang kunamakan Ruang Terisolasi, kau pasti tahu maksudku, Rey!, ruang yang memberi kebebasan tapi kita tak pernah menikmati kebebasan itu.
“Dia gila!”
“Dia aneh!”
“Dia bukan orang biasa!”
Namaku Bukan Siapa-siapa, dan aku yang selalu mendengar celoteh jijik dari puluhan mulut anak manusia yang melihat dan sempat berkenalan dengan sosok dia yang sekarang sedang beradu pandang denganku, senyum manis mungkin sedang mengembang pada bibirku sekarang, lagi-lagi aku membalas senyumnya.
“Kamu sama-sama gila dengannya!”
“Kamu juga aneh!”
“Kamu benar-benar aneh!”

Minggu, September 22, 2013

AKU INGIN ALEXANDRIA


Ini adalah sebuah cerpen hasil perpaduan dua cerpen dan dua ide yang berbeda, dari cerpen "Ujang Ke Alexandria" karya Bang Nadash dan cerpen "Catatan Harian si Penggila Mimpi" karya Nadia, saya sendiri. Selamat Membaca:



AKU INGIN ALEXANDRIA
Oleh: Bang Nadash & Nadia Rahmatul Ummah
Bandung, 21 September 2013         
 “Plaak…!”
            “Aww”
            Aku meringis, dengan spontan tanganku meraba pipi kiri yang telah menjadi korban sebuah tamparan kasar dari tangan seorang laki-laki bertubuh kekar, untuk kesekian kalinya tamparan itu dihadiahkan oleh dia yang katanya menyayangiku. Tapi kenapa menamparku?.
            Aku melihat sepasang bola mata yang seolah menyampaikan pesan bahwa aku lah yang bersalah dan pemilik bola mata itu tak suka dengan apa yang telah kulakukan, tapi apa kesalahan yang telah kulakukan?.
            “Abah sudah mendengar laporan dari Kang Deni tentang kamu, An!”
            Abah, laki-laki yang hampir berumur lima puluh tahun itu meninggikan suaranya, beruntung sekali saat suaranya yang menggelegar keluar saat itu pula jam salendro di kamarku berdentang nyaring empat kali, sehingga tak akan tertangkap oleh telinga Emak yang sedang memasak makanan untuk makan malam di dapur, kalau saja Emak tahu ia pasti berlari ke kamarku mencari tahu apa yang terjadi.
            “Kang Deni? Tentang apa, Bah?”

Jumat, Agustus 23, 2013

MENCARI HITAM

17 Agustus 2013, Irama Kereta Malabar
Kunamakan diriku Bukan Siapa-siapa, sebelumnya aku punya nama yang bagus pemberian orang tuaku, tapi aku merasa itu bukan diriku semenjak semuanya menjadi aneh, ya, aneh...!. Beberapa jam yang lalu namaku menghilang oleh sebuah perasaan yang hilang juga, bagiku tanpanya aku bukan siapa-siapa.
Tak apa, ya, tak apa-apa, sebuah perasaan tak mesti dibalas oleh perasaan yang sama pula, kan?. --HITAM--

19 Agustus 2013, Aroma Borobudur Yogyakarta
Wujudku semakin jelas meski namaku Bukan Siapa-siapa, beberapa menit yang lalu wujudku samar sebelum kutemukan petunjuk Tuhan arti sebuah cinta. Ya, ini wujudku jika tanpa Tuhan. --HITAM--



22 Agustus 2013, Gedung Putih Abu Tasikmalaya
Hari ini banyak orang membantu mencari namaku, aku berharap namaku Bukan Siapa-siapa lagi.

Orang pertama yang menemukan namaku:

Sabtu, Juli 13, 2013

MAAF, TAK ADA MOCCACINO UNTUKMU LAGI!


Hari itu kau kembali memesan secangkir moccacino, tak lihatlah kau tulisan yang tertera di pintu cafeku ini,
Maaf, Tak Ada Moccacino Untuk X 
Bukan aku tak ada persediaan mocca untuk para tamu tapi aku tak mau memberikannya padamu.

Kamis, Juni 13, 2013

DIA MEMBUAT AKU MATI "KEREN"

"DHUAR!"
"DHUAR!"
Sebutir peluru bersarang di dada seorang laki-laki bertubuh kekar di hadapanku, aku pun menjerit tertahan, ingin berteriak mengucapkan "innalillahi" tak sanggup terucap dari bibirku karena saking kaget dengan suara pistol yang memuntahkan peluru. Dan mungkin jika aku berteriak, habislah sudah aku oleh semua orang di sekelililngku, ngeri juga kalau dikeroyok orang dalam kegelapan apalagi aku tak mengenal mereka, bisa saja beberapa orang diantara mereka itu jago karateka, atau mantan petinju, polisi, TNI, polwan, intel... Whaa..membayangkan sosok mereka saja aku tak sanggup. 
Fiuh... aku bisa bernafas lega sekarang, aku bisa melihat senyum laki-laki kekar yang ditembak tadi, tandanya di atak mati..
"KRIIIEET"*
Aku pun sedikit menghindar, silau, sinar dari lampu mobil yang keren dan tak kukenal namanya menyilaukan mataku. GILA, jantungku hampir copot... ASTAGHFIRULLAH. Beberapa mobil menyusul di belakangnya .... dan melaju ke arahku ....
GELAP
SEMUANYA GELAP....
Duuh, mataku tak mampu dibuka lagi, lemas rasanya.
# # #
Ah, semuanya masih gelap, dan suara desing peluru juga deru mesin beroda empat masih membahana. Aku lihat sekelilingku, masih seperti saat aku tertunduk lemas, rekan-rekanku masih ada bersamaku, mereka pun tertegun dengan kejadian di hadapan mereka. 
Melelahkan, dan aku baru saja mencoba membuka mataku kembali..
Aaaaa .... suara dua orang perempuan di sampingku membuat suasana semakin tegang, dia masih rekanku.
"Tolong...jangan mati.. jangan..!"
Jeritan tertahan terdengar parau dari samping kiriku, masih suara rekanku.



# # #
Ya, para pembaca sekalian itulah sepenggal cerita saat aku nonton Fast & Furious 6 di sebuah bioskop bersama teman-teman beberapa minggu kemarin... :D
Karena rasa capek selepas pulang kuliah dan rapat, akhirnya aku pun bisa tertidur di bioskop dengan suara bising film action.. :D.. tak lama, kok, hanya 10 menit (aku hitung)..
Meskipun begitu aku bisa menilai film itu.. KEREN..!