Jumat, Maret 08, 2013

KATAMU AKAN ADA PELANGI DI ESOK HARI


     Seperti guyuran hujan, hawanya begitu membekukan, dan ini membekukan aliran darahku, nafasku, detak jantungku, dan denyut nadiku. Jangan dikira aku telah mati, aku masih hidup, namun hidup dalam kematianku. Aku masih hidup, buktinya saja kamu masih bisa melihat air mataku yang jatuh satu persatu dan aku melihat matamu berkaca-kaca. Kasihankah kamu padaku? Tak tegakah kamu melihat seorang wanita menangis? Apalagi air mata yang dikeluarkan adalah air mata karenamu, air mata untuk semua perasaan takutku, air mata kehilanganmu.
     Jangan bilang kamu lupa dengan perkataanmu,
"Akan ada pelangi di esok hari"
     Kenyataannya tak ada, yang tiba hanyalah awan mendung diikuti gelegar petir yang seolah ingin menyambarku disusul dengan deras hujan yang ingin mengguyurku sepuasnya. Masih ingatkah? Katamu hujan itu indah dan mengasikan namun terkadang menakutkan, dan sekarang bagiku hujan tidaklah indah ataupun mengasikan.

 
      Ah, mungkin kamu lupa, atau pura-pura lupa?. Ya, kamu memang pelupa, makanya aku sering mengingatkanmu walaupun itu hal kecil yang seharusnya kamu ingat-ingat sendiri. Aku sudah seperti sekretaris pribadimu saja, padahal aku hanya sosok yang pernah mengisi ruang hatimu, entah berapa lama, aku tak tahu pasti. Ya, mungkin kamu lupa, kamu berjanji padku akan mengajakku menonton, jalan-jalan, menulis untukku, dan membawa hubungan kita kepada kebahagiaan meski di sekeliling kita tak mungkin menyetujuinya, belum genap dua bulan kamu mengatakannya, apa kamu sudah melupakannya sekarang?.
     Sebatang cokelat kirimanmu kemarin malam tak mampu menghalau gelisah dan galauku, walau sebenarnya aku salut padamu, rupanya kamu tahu malam itu aku membutuhkan cokelat sebagai penawar galauku.

 
    Dalam sekejap saja aku bisa menjadi menjadi kekanakan seperti sifatmu, manja seperti dirimu, itulah aku, seorang wanita yang telah terluka olehmu, oleh lelaki yang pernah mengisi hari-hari bahagia dan sedih, lelaki yang pernah menjanjikan tibanya pelangi di esok hari.
    "Maafkan aku, menyimpan terlalu dalam perasaanku padamu"
      Setelah semuanya berakhir, aku ingin sekali menjauh darimu, tak ingin melihat wajahmu bahkan batang hidungmu, tapi tetap saja tidak bisa. Jika aku bisa, ingin sekali aku menghilangkan ingatanku tentangmu dan semua yang berhubungan denganmu karena mengingatmu membuatku harus menarik nafas dalam, sakit.



Saat kamu menyatakan perasaanmu padaku, aku seperti mendapat hadiah terindah dari tuhan, Karena ternyata perasaanku tak bertepuk sebelah tangan, banyak sekali hal yang membuatku mengungkapkan rasa sayangku padamu, kamu telah membuat diriku berarti di mata orang lain, kamu juga yang membantu mewujudkan salah satu mimpiku, kamu juga yang membuatku begitu berharga, kamu yang selalu membuatku tersenyum meski aku sedang sedih sekali pun, terima kasih atas semua kebaikanmu.
Sebelum kamu menjadi kekasihku, kamu adalah teman terbaikku, sahabat terbaikku, kamu tahu sendiri, kan, sampai umurku yang kepala dua ini aku baru menemukan sahabat yang mengasikan, kamu juga menganggapku begitu, mungkin, karena yang aku ingat sebelum kamu menjadi kekasihku sebelum kamu selalu mengirimiku sms gombalmu kau sering curhat tentang wanita yang kamu sukai, selalu, dan dari sana aku menilai dirimu adalah lelaki romantis yang pernah kukenal.

Mengertikah kamu? Setiap hari, jam bahkan detik, aku selalu menunggu dering sms mu yang masuk ke handphone-ku, tapi jarang aku beruntung mendapat sms seperti dulu lagi dengan kata-kata konyolmu, permintaan bantuan padaku, aku hafal, jika kamu sms aku kamu pasti ada maunya, minta bantuan mengerjakan tugas atau curhat, selain itu tak ada, sampai-sampai aku hafal kisahmu dari awal.
Rasa rindumu entah menguap atau tersembunyi? Atau bahkan kamu menghiraukan rasa rindu yang ingin singgah?.
Kamu berkata ini jalan terbaik untuk memperbaiki diri agar tak salah jalan lagi, aku mengerti itu dan sangat menghargai, aku pun merasa begitu, terlalu bnyak hal negative yang kudapat dari perasaan indah ini, gelisah, cemburu, iri dan dosa.
Jika aku diminta untuk menilaimu dari angka 1 sampai 10 , kamu termasuk orang yang mendapat nilai 9,5 atas sikap pengertianmu, sikap perhatianmu, penghargaanmu terhadap sosok yang bernama wanita, kamu pernah menjelaskan kepadaku bahwa kamu tak ingin menyentuhku sedkitpun karena takut terjadi hal-hal yang tidak diingkan, aku kagum padamu.
Aku tahu hati itu bukan milik kita, aku, kamu atau dia, tapi hati memang terkadang punya keegoisan, aku cemburu terhadap orang-orang yang dekat denganmu, apalagi siang tadi seorang wanita mengaku sering smsan denganmu, jujur, aku cemburu.
Entahlah, aku rasa aku sudah gila, memikirkanmu terus.
Semoga pelangi akan hadir esok hari. 
Untuk seseorang yang pernah memberi rasa.

MAU JADI PENULIS? GABUNG, YUK...!

Halo, sobatku yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng...! Suka curhat lewat tulisan? apa kalian termasuk penulis status dan komentar di facebook juga mention sana-sini di twitter? atau hanya menulis buat diposting di blog?.
Mau curhatan dan statusmu dikemas menjadi tulisan-tulisan yang keren dan inspiratif? Gampang, kok, kalian tinggal belajar nulis, --mau itu tulisan non fiksi berupa esai dan artikel atau tulisan fiksi berupa cerpen dan novel-- bersama kami, FLP (Forum Lingkar Pena) Depok, sarangnya penulis-penulis hebat seperti Mbak Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Mas Koko Nata dan penulis hebat lainnya.
Tertarik ....?
Ayo Gabung ...!



Kamis, Maret 07, 2013

SENYUMAN TERMANIS




Karya: Nadia Rahmatul Ummah

Mungkin aku tak akan pernah tersenyum bahagia
Sebelum mentari tampak di ufuk Timur
Sebelum burung-burung manis bernyanyi merdu meloncat-loncat diatas dahan pohon bunga sepatu di halaman rumahku
Dan mungkin juga aku tak akan pernah menghapus air mataku
Sebelum hembusan angin menerpa lembut pipiku di pagi ini.
Kau juga akan tahu, aku tak akan pernah tertawa riang
Sebelum kucing-kucing kecil bermain petak umpet di pojok kelasku

Ternyata semua itu kudapati sekarang
Aku dapat menghapus air mataku, tersenyum menyambut pagi dan tertawa mendengar gurauan teman

Kau tahu sebabnya ?
Semua itu hanya karena sebuah senyuman
Senyuman termanis yang pernah dipersembahkan untukku,
Entah itu tulus atau sekedar mainan, yang ku tahu saat itu aku bahagia
Ya, karena senyuman itu terkembang dari merahnya bibir dan wajah putih bermata kecil.
Dan itu adalah senyuman termanis pertama bagiku.

Bojongkaum no 50, 17 Januari 2010
 Buku Antologi Puisi PENA HATI hal. 53

Minggu, Maret 03, 2013

KOPI TERAKHIR DARIMU #Part 1

Oleh: Nadia Rahmatul Ummah
“Nyeduh kopi lagi, Kei?”
Suara seseorang di ambang pintu dapur mengagetkanku yang sedang menyalakan kompor gas, aku membalikkan badan, mencoba memperhatikan sosok yang berdiri di sana. Lampu dapur yang redup membuatku tak sanggup mengenali wajah dan sosok tubuhnya yang hanya bayangan apalagi aku tak ditemani kacamata minusku, ah, mungkin Diana atau Elphina yang baru pulang dari kampus.
Suara sendok dan mug beradu merdu, menciptakan irama dalam benakku, ada nada dan cerita di dalamnya yang harus segera aku tuangkan dalam sebuah tulisan. Meski di luar hujan dan suara petir yang menggelegar tak mengubah melodi dalam benakku ini.
Kini mug cantik pemberian temanku, Dwi, khusus yang dibuat olehnya untukku telah terisi oleh kopi moccaccino yang selalu membuatku tergiur oleh aromanya. Mug hadiah ulang tahun ke-21 itu tersenyum padaku seperti potret dan hiasan pada mugnya.
“Assalamu’alaikum …”
Suara nyaring yang aku kenal kini mengubah suhu ruangan yang dingin menjadi hangat, Diana. Gadis remaja yang lembut asal Ranah Minang itu masuk rumah kontrakan kami yang terhitung paling besar di komplek Kampus ini.  Bisa ditebak ia masuk sambil tersenyum dan menggendong tas ranselnya di depan dada.
Wa’alaikumsalam, Diana …!”
Aku menyahut riang dari kamar, kebetulan kamarku dekat dengan pintu masuk kontrakan yang terlihat menyeramkan jika dilihat dari luar, hanya terlewati oleh satu kamar.
“Kei, sudah makan, belum?”
Selalu, ia akan mengajukan pertanyaan serupa jika ia pulang dan mendapatiku sedang memelototi laptop atau sedang menggoreskan pensil di atas sketch book.
“Sudah, Na” aku tersenyum, “sendirian?”
“Sama Elphina”
“Elphina? Bukannya …”
Ah, bukannya tadi Elphina ada disini bersamaku?, aku ingat sosok bayangan hitam yang berdiri di ambang pintu dapur, menemaniku menyeduh kopi.
“Kenapa, Kei?”
Elphina muncul dari belakang Diana, masih dengan seragam kampusnya yang hampir basah kuyup karena hujan di luar.
“Ah, El” aku mencoba menyembunyikan rasa heranku “aku kira kamu gak pergi ke kampus”
Elphina, gadis remaja berperawakan kecil seperti diriku asal Lampung itu geleng-geleng kepala.
“Aku dan Diana satu kelas, Kei” ujarnya “Kamu ini seperti orang pikun saja.
Aku tertawa disambung oleh derai tawa mereka, walau suasana menjadi hangat aku tak dapat mengubur rasa heranku bahkan sekarang menjadi rasa takut, aku ingat cerita pemilik kontrakan ini tentang mahluk halus berambut panjang yang menghuni kontrakan tempat aku, Elphina, Diana dan tujuh orang lainnya tinggal.
# # #
            “Kopinya enak, ya?”
            “Enak, apalagi yang cappuccino, El” aku menjawabnya tanpa menoleh ke sumber suara.
“Apa?”
“Ya, kopinya emang enak apalagi yang cappuccino”
“Aduh, Kei, kamu ngomong sama siapa sebenarnya?”
Aku menghentikan tarian jemariku di atas keyboard laptop, dan menoleh ke arah Elphina yang menghampiriku.
            “Lah, bukannya kamu tadi nanya tentang kopi yang aku minum ini” aku menunjuk mug cantik bergambar sebuah novel karya aku dan Dwi serta gambar kami yang berdiri manis sambil tersenyum.
            “Hmm”
            Elphina menggelengkan kepala, raut mukanya keheranan dan sedikit kekhawatiran.
            “Oia, cerpenku sudah mau selesai, nanti dibaca, ya?!”
            Kini Elphina menganggukkan kepalanya, lalu berdiri dan hendak meninggalkanku di kamar bercat ungu muda ini.
“Mau kemana, El?”
“Wudhu, mau shalat”
Aku mengalihkan pandanganku ke arah jam analog di laptopku, jam 21.25. Aku belum shalat Isya.
“Kamu sudah shalat Isya?”
Aku menggeleng “nanti saja, tanggung, sebentar lagi selesai”
Aku kembali ke hadapan mesin uangku dan jemariku kembali menari di atas keyboardnya, suara ketikannya nyaring, tapi terdengar samar di telingaku karena earphone yang kupasang di telingaku sedang melantunkan lagu rocks, kencang.
Aku menyeruput cappuccinoku yang tinggal setengah dari mug cantik, sensasinya kembali menjalar ke badanku, pandanganku mulai sedikit kabur, kepalaku terasa sedikit pening dan jantungku kembali berpacu lebih cepat dari sebelumnya, luapan ide-ideku kembali ingin dimuntahkan, aku terus mengetik, menyajikan tarian indah.
Kopi, minuman favoritku selain teh yang kutemui di beberapa restorant Jepang di daerahku. Moccaccino, espresso, cappuccino dan coffee latte adalah daftar kopi yang sering aku pesan jika berkunjung ke Café Orange di food hall plaza.  Cappuccino, ia teman terbaik, dengannya aku dapat merangkai kata-kata, seperti dua tahun lalu ketika aku masih duduk di bangku kelas sastra di SMA-ku. Espresso, walau pahit harus tetap kunikmati, karena dari sana aku dapat megerti hidup ini memang banyak pahitnya. Moccaccino dan coffee latte, ah yang ini sangat memuakkan coffee latte yang terlalu manis bagiku membuatku tak ingin mempercayai lagi sosok laki-laki yang pernah memberiku buket bunga mawar merah dan boneka beruang besar setahun lalu, tapi aku tak boleh membenci coffee latte dan moccaccinonya, terlalu kejam.
            Tik … tik … tik … suara jarum jam dinding di luar kamarku, tepatnya di ruang televisi mengisi malam yang sepi, dan jam analogku menampilkan angka 23.30. Kopi cappuccinoku telah habis. Aku bergegas ke dapur membawa mug kosongku.
“Mau nyeduh kopi lagi?”
“Ya, naskahku belum selesai, takut ketiduran” aku menjawab suara dari kamar kami, aku dan Elphina.
“Kenapa kamu bangun jam segini? Belum ngerjain tugas, ya?”
Lima detik, tak ada jawaban dari kamar, ah, pasti Elphina hanya terbangun sebentar.
Aku jadi teringat, aku belum shalat Isya. Ah, tapi nanti saja, kan masih ada waktu.
“Kopinya enak, ya?”
“Enak, El”
Aku menoleh ke belakang, mencari sosok Elphina yang baru saja berdiri di ambang pintu dapur yang lampunya redup.
“El?”
Bayangan itu lagi, bukan Elphina atau Diana, postur tubuh mereka tak setinggi itu, dan rambutnya tak sepanjang bayangan itu.
“Oh, kenapa kamu belum tidur?”
Suara tawa nyaring menyambut pertanyaanku yang mencoba menghalau rasa takut. Suara sendok dan mug berbunyi nyaring, di luar tak ada suara jatuhnya air hujan, yang ada hanya suara langkah-langkah kaki petugas ronda menyatu dengan irama mug dan sendok serta detakan jantungku yang berpacu cepat.
Bersambung ke Part 2 .... ^ ^

Minggu, Februari 17, 2013

IDOLAKAN ROSULULLOH, MILYARAN RUPIAH MENGHAMPIRI

"Jika begini terus, aku ingin mati saja..."
Uhh, miris, bukan?, emangnya mati bisa menyelesaikan masalah?, tidak, khan?. Mati justru malah menimbulkan masalah bagi yang mati--masalah di alam kubur dan akhirat nanti--dan bagi yang ditinggalin mati. Bayangkan saja jika yang mati itu masih punya banyak hutang dimana-mana, jika ia seorang kepala rumah tangga ia belum mampu memenuhi tanggung jawabnya kepada anak dan istrinya, tentunya orang yang ditinggalkan akan riweuh membayar hutang-hutang orang yang meninggal dunia, kecuali jika yang dihutanginya ikhlas untuk tidak dikembalikan. Belum lagi jika selama hidup banyak sekali dosa yang dilakukan tanpa sempat bertobat, kebanyakan galau dan murung.
Sobat, jika tak mau begitu, yuk, pantengin perjalananku menghalau galau dan merefresh pikiran...!

Seperti pelangi, hidup ini penuh warna, mungkin warna hidup lebih banyak, ada abu-abu, hitam, merah, dan kawan-kawannya. Nah, waktu itu hidupku sedang berwarna abu-abu setelah mengalami kehilangan, kadang berwarna biru karena sendu. Dan saat itu pula aku mencoba mencari pelangi kehidupan, agar warna yang indah kutemui kembali.
 Tapi, dalam perjalanan mencari pelangi kehidupan itu kadang warna gelap itu memenjarakan kita.

Dan kita pun harus berusaha membebaskan diri, caranya dengan ikhlas serta lapang dada dengan keadaan kita saat ini, bersyukur terlebih dahulu setelah itu mencoba mencari solusinya, apapun permasalahnya.
Selain dihadapkan dengan "penjara" seperti tadi, hidup kita juga dihadapakan dengan pilihan, kita mau pilih kanan atau kiri, pilih atas atau bawah, dan itu membuat kita bingung, nah, untuk menghadapi itu kita dibekali pedoman biar kita tidak salah memilih.
Sekarang kita ikutin jejak dua orang pengusaha muda yang mengisnpirasiku membuat tulisan ini, ada Mas Hendy Setiono dan Kang Elang Gumilang, ada beberapa rahasia yang mereka berikan kepada kita yang tak ingin hidup sengsara di dunia maupun di akhirat. Keren, khan?!.
Tulisan ini sebenarnya aku persembahkan untuk seorang teman yang memintaku untuk merekam seminarnya Mas Hendy Setiono dan Mas Elang Gumilang, Maaf, karena waktu itu tidak bisa merekam akhirnya aku rangkum disini.
"Wow, mahasiswa mainannya milyaran rupiah!"
Begitulah celoteh sang Moderator sebuah acara seminar bertajuk " We Are The Next Muslimpreneur" yang diadakan di kampus STEI Tazkia, tanggal 14 Februari 2013 kemarin. Demi mencari pelangi dan menghalau galau aku beranikan diri tidak kuliah hari itu (yang ini jangan ditiru, tapi kalau mau silakan tiru .. hehe), awalnya hanya main-main saja, tak peduli seminar apapun yang penting keluar dari Depok dan jalan-jalan, begitulah tujuanku dan beberapa teman-teman kampusku. Namun Allah menyayangi kami, tak hanya merefresh pikiran saja, ilmu, teman, dan link pun kami dapatkan.
Kedatangan kami yang terlambat ke ruang seminar tak membuat kehilangan nasihat-nasihat dari mereka, inilah dia beberapa nasihat mereka kepada para mahasiswa yang hadir:
"SUKSES ITU ADALAH HAK KITA", so, kita harus memperjuangkan hak kita, donk, seberapa besar ujiannya kita harus mengalahkan kemalasan dan mencapai kesuksesan kita. Terus, bagaimana caranya?, caranya ....
"DO IT NOW", sebenarnya kalimat ini sering banget kita temukan di buku-buku motivasi dan seminar-seminar. Justru karena ini hal yang sangat penting maka diulang berkali-kali oleh para motivator dan penulis agar kita berani memulai dari sekarang untuk mencapai kesuksesan kita. Untuk memulai semuanya tentunya kita harus memiliki clue-nya, dan inilah clue yang dengan senang hati diberikan oleh Mas Hendy dan Kang Elang. 
Clue-nya apa?. Ini dia:
"ILMU dan NETWORKING", sinergi antara keduanya adalah salah satu cara membangun sebuah bisnis, cocok nih bagi para mahasiswa seperti kita, ilmu tiap hari kita cari, networking, biasanya mahasiswa yang aktif lebih jago di hal ini. Jika keduanya sudah yakin kita miliki, yuk kita mulai membuka dan membangun bisnis kita dengan ....
"PASSION dan INOVASI", mulai dengan minat dan hobi kita, contohnya saja Mas Hendy yang ternyata minat dan hobinya di dunia kuliner beliau membuka bisnis kulinernya Kebab Turki Baba Rafi. Ayo, sekarang giliran kita, minatnya dimana, sich?. Biar gak boring dan monoton coba inovasikan bisnis kita supaya berbeda dengan bisnis lainnya.
Catatan bagi mereka yang belum memiliki ilmu berbisnis beranikan diri membuka bisnis yang sesuai minat kita, nanti juga ilmu akan mengikuti. Sip, khan?!. Dan bagi mereka yang kurang bisa memproduksi pikirkanlah dulu cara berdagangnya, bukan cara kita membuatnya, produk itu bisa dicari.
Bagaimana dengan modal?
Modal yang pertama adalah INTEGRITY lalu CAPABILITY kemudian BANGUN BISNIS akhirnya MODAL FINANSIAL pun akan menghampiri.
Ada rahasia dari Kang Elang Gumilang yang penghasilannya milyaran rupiah, padahal masih muda. Rahasianya apa, sich?.
IDOLAKANLAH ROSULULLOH dan para sahabatnya seperti Abdurrahman bin Auf, bukan para artis. Kenapa?, kalian tahu, kan, kalau Rosululloh itu sejak usia kecil berdagang alias berbisnis, nah, kita ikuti jejak nabi kita ini, karena 9 dari 10 pintu rezeki itu adalah berbisnis. Terapkan ilmu ekonomi islam kita dalam berbisnis, yuk!
Begitulah, sobat, perjalananku menghalau galau dan mencari pelangi, hehe, udah menemukan inspirasi belum?.
Yuk, ikuti jejak kami bersama Mas Hendy Setiono dan juga Kang Elang Gumilang...!
Walaupun nanti jalan yang kita lewati tidak lurus tapi berkelok-kelok, karena yang mereka dapati juga seperti itu.
Ingat, jangan pernah merasa sendiri jika ujian itu datang.
Karena kita punya Allah yang selalu memperhatikan kita.
Ekonom Robbani Bisa!

Jumat, Februari 08, 2013

DEADLINE KEMATIAN



 Oleh: Nadia Rahmatul Ummah
( Juara Naskah Terbaik Lomba Cerpen Tingkat Nasional Majalah KUNTUM 2012 )
 “Kau akan mati pada tanggal 1 Januari 2013!”
Suara itu menggema di ruangan yang  sama sekali tak ada penerangan lampu listrik, hanya penerangan dari sebatang lilin di atas kaleng biskuit bekas yang diletakkan di atas meja kayu. Adegan ini kembali terulang dan ini yang kedua kalinya, di tempat yang sama, padahal dua menit yang lalu aku sedang menyelesaikan naskah cerpenku di depan laptop.
“Gila, ada apa lagi?” aku membentak mencoba menghalau rasa merinding, pandanganku mengelilingi ruangan yang aku perkirakan berukuran 2 x 3. Aku mencoba berdiri karena tadi aku seperti dilempar oleh seorang yang bertenaga besar .
Seperti apakah wujud pemilik suara menakutkan itu? Apa seperti drakula? Vampire? Zombie? Atau malaikat kematian?.
“Ah, aku bisa gila” aku meremas rambutku “Kyriel, mana ada mahluk semacam itu di dunia ini, kamu ini terlalu banyak baca buku misteri” aku bergumam.
“Kau akan mati pada tanggal 1 Januari 2013, tinggal 14 hari lagi sisa waktumu di dunia ini” lagi.
“Memangnya kamu ini tuhan yang menentukan hidup dan mati?” Aku kembali membentak, kini aku bisa mengalahkan rasa takutku.
“Tuhan?” suara itu terdengar lagi, kini dengan nada menyindir  “bukannya kamu tak mengenal tuhan?”
 “Kyriel” kini yang terdengar adalah suara lembut yang sering kudengar  “apa benar kamu akan mati tanggal 1 januari nanti?”
“Shaima, kamu disini juga?” aku mencari sumber suara yang selalu kurindukan “jangan dengar dia, itu bohong”
“Hahaha” kini tawa si mahluk tak nampak, menjijikan “Kau akan mati, Kyriel”
Aku terduduk lemah, keringat dingin yang tadi bercucuran sudah membasahi baju kaos lengan panjangku, kaki dan tanganku bergetar hebat.
“Tuhan?”
 “Kyriel…” suara Shaima “apa benar kamu akan meninggalkan aku tahun baru ini?” ada isakan pelan disana.
“Shaima” aku memanggil nama kekasihku, pelan.
“Kyriel”
Tubuhku diguncang-guncangkan oleh seseorang, aku menengok ke belakang, Shaima, ia memegang bahuku, wajahnya dihiasi senyuman yang mampu membuatku luluh. Dengan cepat aku menggenggam tangannya.
“Apa dari tadi kamu disini? Kamu jangan takut, orang tadi berbohong”
“Siapa?” raut wajahnya menandakan keheranan.
Apa yang barusan dikatakan Shaima? Bukannya tadi ia menemuiku di kamar asing tadi? Aku memandang sekelilingku. Dan lihatlah! Aku kembali di kamar tercintaku, posisiku masih seperti sebelumnya, duduk di depan laptop.
“Apa tadi aku tertidur?” tanyaku pada Shaima yang telah mengambil kursi plastic dan duduk di sampingku.
“Tidak” Shaima menggelengkan kepala “dari tadi kamu melamun, bukannya kamu sedang mencari ide untuk menyelesaikan naskahmu?”.
# # #
“Kyriel, kau akan mati pada tanggal 1 Januari 2013”
Suara itu selalu terngiang di telingaku, masih suara si mahluk tak nampak yang berada di kamar asing itu. Kalau itu benar aku sekarang hanya punya waktu 12 hari lagi.
“Bukannya kau tak mengenal tuhan?” lagi.
“Tuhan” lirihku “aku tak mengenal tuhan?”