Sabtu, Juni 16, 2012

BOCAH KECIL UNTUK PALESTINA


Oleh: Nadia Rahmatul Ummah                          

Senja Jingga di sudut langit Palestina
Merona memberi warna pada awan yang berdebu
Menciptakan udara yang bau tanah bercampur amis darah
Bocah kecil dengan jemari menggenggam batu-batu

Sepasang matanya menceritakan kepadaku
Tentang mimpi-mimpi indahnya yang berubah menjadi batu-batu dan darah yang mengering
Serta bom-bom yang menggetarkan Al-Quds

Sepasang matanya juga menceritakan kepadaku
Tentang tangisan bayi-bayi merah yang ditinggal syahid ayahnya
Juga kaki-kaki kecil yang berlari menghindari cengkraman kasar para Zionis yang haus darah

Masih dari sepasang matanya  yang bercerita kepadaku
Tentang suara desing peluru dan bau mesiu
Serta deru buldozer yang menghancurkan rumah-rumah menjadi puing reruntuhan

Umar namanya, pemilik sepasang mata yang bercerita kepadaku
Bocah kecil cerminan cerdik Yahya Ayyash
Pewaris keberanian para pejuang HAMMAS
Yang mengantarkan pemuda-pemuda Palestina pada bom-bom syahidnya

Berlari...
Umar kecil berlari
Menerjang debu-debu yang beterbangan
Memekikan takbir dan meneriakan INTIFADHAH
Batu-batu terlempar dari jemari kecilnya
Menghadang para Israel pemilik senapan canggih

Bocah kecil bernama Umar
Sepasang matanya lagi-lagi menceritakan kepadaku
Tentang kebengisan tentara Israel para penyembah salib
Yang merampas ibu dan adik-adik kecilnya di jalur Gaza
Tentang bom-bom syahid yang mengantarkan ayahnya ke Syurga

Senja jingga beranjak pergi meninggalkan langit yang sebentar lagi gelap
Suara adzan mendayu-dayu mengajak Umar Kecil bersujud dan berdoa
Sedangkan para Zionis Yahudi masih berisik mencari mangsa dengan senapan laras panjangnya

“DHUAR...!”
Peluru panas menembus dada bocah kecil pemilik sepasang mata yang selalu bercerita kepadaku
Bocah kecil untuk Palestina
Umar ...
Umar kecil pewaris Yahya Ayyash roboh bersimbah darah
Tak akan kulihat lagi sepasang matanya yang bercerita
Namun akan ku rasakan keberanian Umar-Umar lainnya nanti.

13 Mei 2012
Ruang Makna


ENTAHLAH, MASIH ADA DARAH YANG BERSIMBAH

 
Oleh: Nadia Rahmatul Ummah
Detik ini terasa begitu mencekam
Menerkam malam yang membias ketakutan
Hingga pagi menjelang masih menyisakan asa yang tiap hari terkubur.

Oleh: Nadia Rahmatul Ummah
Aku masih disini
Di negeri yang hilang kedamaian
Karena diam tak dapat menciptakan ambisi
Karena berlari tak membuahkan harapan.

Bau mesiu menusuk hidung
Mengusik mimpi yang baru saja tergenggam
Suara dentuman bom memecah sunyi yang bersejuk
Mencipta jiwa yang bergetar menahan duka dan amarah.

Aku pemuda
Yang kata orang penggerak roda perubahan

Tersenyum menatap mushaf yang tadi baru saja kubaca
Entah apa yang akan terjadi esok hari
Akankah dentuman bom dan bau mesiu membaui alam?

Ah entahlah...
Apa aku akan terus begini sampai ajal menjemput
Masih ada darah yang bersimbah di tanah palestina ini...

MAHLUK ANEH ITU


 
Oleh: Nadia Rahmatul Ummah 
Kau hadir tanpa diundang. Kau datang tanpa penberitahuan
Kau sungguh keterlaluan.Tak sopan kau berbuat begitu
Karena di bumi ini harus ada sopan santun.

Kau dari mana, mahluk aneh? Apa kau dari planet nun jauh di sana?
Apa kau terdampar setelah kendaraanmu mendarat di bumi ini?
Kenapa kau membisu?.

Sungguh aneh
Kau datang dengan mengetuk pintu kalbu. Tergesa kau masuk ke dalamnya saat pintu itu terbuka
Sang tuan rumah tak kau hiraukan. Hei, kau mahluk aneh, tuan rumah sedang terbaring lemas.

Aku tak tahu persis bagaimana wujudmu
Kau begitu cepat menjelma
Menjadi hembusan angin yang menerpa pori kulit
Lalu berubah menjadi aliran elektro yang mengisi urat nadi
Kemudian kau menjelma degupan kencang di dada
Setelah itu kau terus berdiam diri di hati, pikiran dan asaku.

Begitu hebat peranmu
Pantas kau jadi aktor terhebat
Kau sengaja, ya, buatku begini?
Merasakan keanehan yang melenakan

Orang bilang kau penuh pesona, rasa dan warna
Ada yang bilang kau menyenangkan
Dia berkata sambil tersenyum dengan pipi merona
Ada juga yang bilang kau menyakitkan
Dia berkata sambil menangis mengurut dada

Tetanggaku bilang kau rasanya manis
Jika aku bisa berdamai denganmu
Dia juga bilang kau rasanya akan pahit
Terkadang membuat perih
Jika tak bisa menjagamu
Tanpa kau bumi tak akan kenal kedamaian

Kali ini aku yang kedatangan kau
Keanehan pesonamu begitu terasa

Penyair bilang kau bernama cinta
Benarkah itu kau?
Hmm... tak asing di telingaku sebenarnya
Ternyata mahluk aneh itu kau, cinta!

AKU DAN CALON PENULIS HEBAT

Oleh: Nadia Rahmatul Ummah
               “Taufan!”
           Teriakan seseorang mengagetkan aku yang sedang terkantuk-kantuk hampir terlelap. Di depanku seorang wanita berpakaian rapi dan berkacamata minus telah berdiri dengan ekspresi yang mengerikan di tangannya tergenggam penggaris kayu yang besar.
           “Berapa jumlah takaran bahan pembuatan cake yang tadi saya sebutkan di depan?” kini tangannya yang memegang penggaris mengarah ke meja guru.
           Aku berpikir, berapa? Aku tidak memperhatikannya sama sekali karena sibuk dengan cerita yang ditulis, ah, andai saja aku tadi memperhatikan wanita yang sering dipanggil Ibu Lia itu, mungkin aku bisa menjawab dan membantu Taufan.
           “ 250 gr telur, 250 tepung terigu, 250 gr gula pasir…” jawab Taufan dengan mimik terpaksa, wajahnya yang terlihat mengantuk malah terlihat semakin tak karuan.
           “ Salah!”  wanita itu kini berkata agak keras sambil memukulkan penggaris kayu ke atas meja, membuatku hampir terlempar dari genggaman tangan Taufan, pemuda bertubuh kurus.
           Taufan malah nyengir, aku meringis. Kenapa aku punya teman seperti ini?, tak memperhatikan guru, pakaian seragamnya yang kadang menyalahi aturan, hari ini saja ia memakai seragam putih abu padahal hari ini ia harus memakai seragam cook, seragam yang harus dipakai saat jam pelajaran produktif karena Taufan sekolah di SMK Pariwisata dan mengambil jurusan Restorant.
           “Lihat catatan kamu!”   guru pelajaran  pengetahuan menu itu menarik buku di dekatku. Sesaat kemudian matanya terbelalak.
           “Ma’af, bu, aku gak nulis resep yang tadi ibu jelaskan, karena…” Taufan terlihat takut menghadapi guru ini.
           “Taufan, sekarang bukan jam pelajaran bahasa Indonesia, kalau mau nulis seperti ini jangan di jam pelajaran saya!” Bu Lia menaruh buku yang dipegangnya tadi dengan agak kasar, ia marah.
           “Aww..” rintih teman dekatku itu.
           “Sabar, ya!”
           “Kenapa aku yang jadi sasaran?”
           “Sudahlah, namanya juga manusia” hiburku.
           “ Nanti kamu temui saya di kantor sepulang sekolah” Bu Lia berkata sambil berlalu dari hadapan kami dengan wajah kesalnya.
           “Baik,Bu!” sahut Taufan yang tertunduk karena malu diperhatikan oleh teman-temannya yang mungkin menanggapnya murid tak punya etika ketika sedang belajar.
           “Kalian jangan meniru kelakuan Taufan, itu tidak mencerminkan murid yang baik” kini Bu Lia berpesan kepada anak-anak yang lain.
           “ Huh, selalu saja begini”  keluh Taufan, ia kembali membuka buku catatannya dan meneruskan kegiatan yang sempat terhenti karena rasa kantuk dan teguran Bu Lia.
# # #

ENTAH KEMANA PERGINYA MIMPI


Oleh: Nadia Rahmatul Ummah
Entah kemana perginya mimpi . Tak kucium lagi harum nafasnya
Yang senantiasa menebarkan asa dan obsesi

Kini segalanya menjadi gelap. Sebab terangnya telah terbawa pergi oleh mimpi
Bahkan oksigen bagi kehidupan pun menipis. Membuat sesak di dada

Tak kudengar lagi seruan sang mimpi. Yang senantiasa membangkitkan jiwa petualang
Tak kusaksikan lagi tarian indah sang mimpi. Yang senantiasa menjadi obat penawar putus asa

Entah kemana perginya mimpi. Tak kurasa lagi hebat pesonanya
Yang akan menaklukan dunia

Mimpi itu pergi tanpa meninggalkan jejak. Detektif terhebat pun tak akan mampu memecahkannya
Duh... siapakah yang dapat menemukan mimpi-mimpi?
Yang hilang bersama anak bangsa

Setiap saat kegelisahan menyelinap Dalam ruang kehidupan
Mendesahkan kekecewaan
Sepanjang detik berlalu , Air mata tak kunjung kering
Membasahi bumi pertiwi
Khawatir bumi ini akan hancur. Tanpa mimpi dari anak-anak bangsa

Negeri ini kemanakah akan dibawa? Jurang kehancuran siap menerima
Satu langkah lagi mundur. Habislah sudah

Entah kemana perginya mimpi
Hilangnya menjelma keputusasaan. Memadamkan kobaran semangat
Pada jiwa anak bangsa yang tenggelam di telaga keruhnya kehidupan.

MENUNGGU


Oleh: Nadia Rahmatul Ummah
Waktu berdetik
Mendendangkan jantungku yang berdetak
Perlahan menyentak
Menutup pintu yang sempat diketuk
Aku terpuruk
Menanti detik yanng terpaut
Untuk menyatukan hati
Oleh jiwa yang tersaruk